Siapa yang tahu jika dirinya akan dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi tangan kanan-Nya dan untuk mengembalikan umat manusia kedalam tangan Tuhan?
Banyak anak yang berusia tergolong mudah, akan selalu memilih kebahagiaan dan masa depan mereka. Berbeda dengan seorang imam atau pastor yang memilih masa depannya seutuhnya di berikan kepada Tuhan. Banyak yang dikorbankan oleh seorang imam untuk mengikuti jalan Tuhan. Namun, hal ini merupakan kehendak Tuhan sendiri yang ikut campur tangan dalam kehidupan manusia. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Matius 16:24 – Hal Mengikut Yesus)
Suka bergurau dan bercanda, merupakan ciri khas dari salah seorang uskup di kota Surabaya, dengan gayanya saat membawakan homili yang unik, membuat banyak umat mengenal beliau, Monsignor Vincentius Sutikno Wisaksono.
Riwayat seorang Uskup Surabaya
Seseorang yang lahir dengan nama Oei Tik Haw dan memiliki status anak kedua dari tiga bersaudara, yang dilahirkan oleh suami-istri yang bernama Stephanus Oei Kok Tjia (Widiatmo Wisaksono) dan Ursula Mady Kwa Siok Nio (Madijanti Wisaksono), ini menjadi imam yang genap di tahbiskan pada tanggal 21 Januari 1982.
Pendidikan merupakan sesuatu yang penting untuk masyarakat Indonesia, selain itu juga untuk memajukan bangsa dan Negara, maka seorang uskup juga tidak akan lupa dengan pendidikannya dan akan menjadi riwayat bagi dirinya. Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono menempuh pendidikannya di SD Santo Michael Surabaya, dengan melanjutkan ke jenjang selanjutnya di SMPK Angelus Custos. Selesai menempuh masa sekolah menengah pertama, beliau memutuskan untuk hidup dan meneruskan ke Seminari Menengah Garum, dan mengikuti studi teologi di Seminari Tinggi Santo Paulus, Fakultas Teologi Wedabhakti yang terletak di kota Yogyakarta. Memiliki jabatan seorang uskup tidaklah mudah, meskipun beliau telah menempuh seminari tinggi, beliau melanjutkan pendidikannya di Filipina, De La Salle University, Manila selama tahun 1988 – 1991 dan dilanjutkan pada tahun 2000 hingga 2004.
Beriringan dengan melalui pendidikannya, beliau telah bekerja sebagai pastor pembantu di salah satu paroki yang bertempat di kota Kediri, St. Yosef (1982-1983). Menempuh sekaligus belajar menjadi seorang pastor yang baik, Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono juga pernah menjadi Pembina seminari menengah di kota Blitar, tepatnya di St. Vincentius a Paulo Garum, Blitar. Tidak dapat dipungkiri dengan caranya mengabdi kepada Tuhan dan caranya menanggapi persoalan yang ada, membuatnya berhasil menjadi seorang Rektor Seminari Tinggi di Interdiocesan Giovanni, Malang pada tahun 1991. Dengan berbagai perjalanan pekerjaannya sebagai seorang pastor berhenti di Paroki Katedral Hati Kudus Yesus, Surabaya. Berakhir menjadi pastor dan diangkat menjadi uskup di keuskupan Surabaya pada 29 Juni 2007 yang pada saat itu keuskupan Surabaya mengalami kekosongan di karenakan uskup sebelumnya Johannes Hadiwikarta meninggal dunia. Dengan berpegang teguh pada motto kehidupannya “Ego Veni Ut Vitam Habeant Et Abundatius Habeant” yang berarti “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyai dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10 : 10).
Telah berbuat dan mengikuti banyak hal
Sebagai seorang uskup, beliau akan terus berkarya untuk Tuhan, gereja dan umatnya. Beliau tidak berhenti dengan jabatannya sebagai uskup Surabaya. Pada tahun 2009, ia menjadi anggota presidium Konfersi Waligereja Indonesia yang beranggotakan seluruh Uskup di Indonesia dengan tujuan menggalang persatuan dan kerjasama dalam tugas memimpin umat Katolik. Beliau juga menjadi Moderator Sekretariat Jaringan Mitra Perempuan Konferensi Waligereja
Indonesia dan prestasi akhirnya berada pada tahun 2015-2018, dengan menjadi Anggota Keurusan keuangan dan Ketua Dana Solidaritas Antar Keuskupan.
Diluar dari jabatan ataupun riwayat kehidupan seorang Mrg. Vincentius Sutikno Wisaksono, seorang uskup tidak boleh hanya memikirkan gereja dan jabatannya saja. Namun juga, harus memikirkan kehidupan umat Katolik secara luas. Hal yang paling terkenang selama beliau menjabat sebagai Uskup Surabaya, umatnya mengenang ajakan sang uskup untuk membangun keluarga, dan mengajak umatnya untuk merenungkan konteks keluarga pada masing-masing orang sebagai sekolah iman yang penuh dengan sukacita. “Keluarga merupakan komunitas iman, kasih dan harapan oleh karena itu keluarga bisa disebut dengan Gereja Rumah Tangga. Norma dan nilai keluarga adalah dasar kehidupan sosial, keluarga juga merupakan sekolah untuk bermasyarakat dan menggereja” jelas Uskup Surabaya yang di ambil dari bdk. Kompendium KGK 456 hingga 457.
“Imam seseorang hanya akan berkembang secara penuh dalam kebersamaan dengan orang lain secara khusus dan itu berawal dari keluarga” ucap Uskup Surabaya. Uskup Surabaya mengajak untuk selalu tumbuh dan mekar dengan adanya komunikasi yang hangat dari perjumpaan antar individu yang bermutu dan setia dalam berdoa bersama, pengampunan satu dengan yang lain, kepedulian untuk mendewasakan iman dan amal kasih.
Melalui Keluarga dan Masa Kini
Tahun 2020 – membuat gentar seluruh dunia dengan adanya pandemi Covid-19 yang meningkatkan jumlah korban dan angka kematian di Indonesia. Dengan bergabung dan berkumpul, membuat Covid-19 tidak akan ada hentinya meningkatkan angka kematian. Sehingga pada tanggal 21 Maret 2020, Uskup Surabaya memutuskan untuk meniadakan semua kegiatan yang melibatkan banyak umat Katolik di gereja, kapel, komunitas maupun wilayah keuskupan Surabaya.
Sehingga Perayaan Ekaristi akan dilakukan dengan daring atau online untuk membuat umat Katolik dapat beribadah dengan keluarga mereka tanpa datang ke gereja dan berkumpul. Dengan begitu, umat katolik dapat memiliki waktu yang lebih banyak dengan keluarga dan dapat menerapkan “berkembang secara penuh dalam kebersamaan” yang di maksud oleh Uskup Surabaya.
Adanya Covid-19 ini, membuat banyak umat Katolik berwaspada dan saling menjaga keluarganya, sehingga waktu yang diberikan untuk keluarga mereka akan lebih banyak dibandingkan sebelum adanya pandemi, Umat Katolik dapat menerapkan dan merenungkan lebih dalam tentang keluarga mereka. Bertumbuh bersama dengan waktu yang ada, dan mengambil makna dari adanya pandemi ini. Pandemi ini membuat banyak waktu akan terluangkan. Pengajaran dan pemikiran Mrg. Sutikno dapat diterapkan oleh setiap keluarga yang mengikuti misa di rumah masing-masing, dan dapat sama-sama peduli dengan pertumbuhan iman satu dengan yang lain.
Dengan begitu, Mrg. Vincentius Suktino Wisaksono dapat terus berkarya dalam pelayanan, jabatan dan dalam memberikan pengajaran dan nasihat kepada masyarakat luas terutama umat Katolik.


Tentang Penulis
Martinus Yudha, Mahasiswa Semester Satu Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga