1. Mencari Bintang Tiga (3)

“Tidak apa-apa. Ini juga sukacita.” Jawab Ramuni. “Bagaimana bisa dikatakan sukacita! Bukankah yang ini juga bagian dari karya ngawulo?” “Kita harus tetap menghargai prioritas orang lain. Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita pada mereka.” “Mari belajar dari Tiga Raja. Mereka berjalan jauh yang tidak mudah. Mereka rindu akan Sang Terang. Seharusnya, kita juga bisa melakukan hal yang sama. Kita tidak perlu melihat siapa di sekitar kita. Tak usah melihat dia atau mereka. Mari, melihat diri. Seberapa jauh kita mencintai Sang Terang yang sudah lahir, dan sudah mengurbankan diri untuk menyelamatkan kita.” “Mencari bintang tak perlu melihat bagaimana orang lain melakukannya. Lakukan itu dengan segenap kecintaanmu kepada Sang Guru Sejati. Jangan karena kita merasa menanggung beban ngawulo itu sendiri, maka kita menebar kedengkian pada orang lain. Diri sendiri tidak bisa menjadi dasar melayani. Cinta kepada Sang Terang menjadi dasar gerakan melayani. Orang Jangan seolah-olah karena kamu sudah melakukannya sendiri, maka kamu sudah merasa melakukan hal yang besar bagi orang lain. Kalau seperti itu perjuanganmu, itu berarti bukan rasa cinta, tapi pujian orang lain yang ingin kamu dapat. “ “Terus, aku harus bagaimana?” tanya Ratrimo merasa bersalah. “Kamu mengasihi Dia, maka lakukanlah...” (Rudi Duck. Jombang).

 

2. Yohanes Pembaptis Bersaksi Tahun A/II.

Warna Hijau. Bacaan Ekaristi: Yesaya 49:3.5-6; Mazmur 40:2.4ab.7- 8a.8b-9.10; I Korintus 1:1-3; Injil Yohanes 1:29-34. Saudara-Saudari yang terkasih,... Kita mengenal Yohanes Pembaptis. Yohanes membaptis orang-orang yang datang kepadanya. Pembaptisan itu sebagai tanda pertobatan. Orang-orang Yahudi yang dibaptis menyediakan diri masuk dalam perjanjian Allah dan melayani Allah. Ketika Yohanes sedang membaptis, Yesus datang kepadanya dan meminta supaya dibaptis olehnya. Yohanes mengatakan, “Lihatlah, Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel." Kesaksian Yohanes itu sekaligus kerendahan hatinya dalam iman dan kepercayaan kepada Allah di hadapan banyak orang. Yohanes menyadari bahwa Yesus ada lebih dulu sebelum dirinya. Yesus bersama dengan Allah dan Dia adalah Allah yang turun ke dunia untuk menghapus dosa dunia. Anak Domba Allah, Yesus, tak bercacat dan tak bernoda. Yesus adalah Putera Allah yang menjadi manusia. Yesus tidak berdosa, namun Ia rela menghapus dosa-dosa umat manusia. Yohanes datang untuk menyiapkan kedatangan-Nya, namun Yesus memiliki kuasa menghapus dosa dunia. Yesus, Anak Domba Allah, Perjanjian Allah yang menghapus dosa dengan darah-Nya sendiri. Kepada Yesus, Yohanes justru minta dibaptis oleh-Nya. Yesus menjawab Yohanes bahwa seharusnya aku yang dibaptis. Mengapa? Kehadiran Yesus semakin menegaskan baptisan Yohanes sebagai cara pertobatan, menjadi anak-anak Allah kembali, menjadi murid-murid Kristus, dan persiapan bagi kita mengalami Yesus berkuasa atas maut, wafat, dan bangkit menyelamatkan jiwa-jiwa. Dengan demikian, menjadi murid Yesus berarti berjumpa dengan Allah dan sesama. Menjadi murid Yesus berarti mau tinggal di dalam Dia dan mau dibaptis. Menjadi murid Yesus beraarti mau ikut serta dalam karya solidaritas pelayanan. Sehingga, kita diutus menempuh perjalanan menuju salib-Nya dan bangkit bersama.

 

3. Akar-akar menjalar

Pohon itu menjadi semakin hidup tanpa terlihat akar-akarnya baik serabut maupun tunggang menjalar mencari makan dan minum di tanah yang lembab. Akar-akar semakin kuat mencari makan dan minum. Akar-akar itu akan memberikan asupan yang berguna bagi batang pohon supaya kokoh dan tahan terhadap segala cuaca dan hempasan angin. Tak mudah goyah dan goyang. Bertumbuh dan semakin kuat batang pohonnya. Jika berdaun, asupan yang cukup akan membuat daun semakin lebat. Jika berbuah, asupan yang cukup memberikan asupan sehingga buah semakin bermafaat. Akar-akar menjalar tanpa kelihatan. Namun gerakkannya ada, halus, lembut b dan memberikan asupan yang kuat pada atasannya, batang, daun, bua-buah, dan menjadi satu-kesatuan pohon. Bagaimana jika pengalaman akan pohon ini dikaitkan dengan kehidupan Paroki, Lingkungan, dan Keluarga? Keuskupan Surabaya telah meluncurkan tema Musyawarah Pastoral 2019 (Mupas). Dalam Semangat ARDAS mendewasakan Paroki yang berakar pada Lingkungan yang hadir di tengah Masyarakat. Bagaimana kita menemukan dan menghadirkan nilai-nilai akar kehidupan dalam Keluarga? Dalam Lingkungan? Paroki? Serta menjadi sumber kesaksian hidup ditengah masyarakat? Dari pijakan reflektif itulah, kita berangkat, mencari, dan menemukan nilai-nilai keabadian yang tersembunyi untuk dihadirkan supaya bisa dirasakan dalam kehidupan bersama sebagai ungkapan cinta dan tanggungjawab. Kita beriman kepada Allah yang selalu mengasihi, berbelaskasih, dan menyertai pertobatan kita: jatuh dalam dosa, mohon ampun, dan kembali dalam kasih persaudaraan mewujudkan iman yang nyata dalam perbuatan. Keluarga terbentuk atas dasar cinta kasih dan tanggungjawab hidup bersama dalam suka dan duka sampai mati. Cinta kasih membutuhkan kurban sebagai pagar kesetiaan meskipun suka, kadang kering, bahkan panas membara terasa membakar, namun cinta dan tanggungjawab menghidupkan seperti pohon yang berakar kuat. Realitas cinta kasih menggerakan suami isteri bertanggungjawab menjaga keutuhan keluarga dengan mendidik anak-anak hingga dewasa dan berbuah kasih.