1. Tangis Bayi Malam itu,

samar-samar terdengar suara tangis bayi menangis melengking, kadang sayup tertiup angin, kadang redup seperti binatang merayap melekat pada tanah yang tak basah. “Apakah kau dengar suara bayi itu di kejauhan?” “Aku dengar! Adakah ibunya jauh dari bayinya?” “Mungkin saja?! Apakah kau dengar tangis ibunya?” “Aku tak mendengarnya. Apakah kau mendengarnya?” “Iya, sekilas bersama bayinya di bilik yang berbeda.” “Apakah kau dengar suara tangis bayi itu di dalam gereja?” “Aku mendengarnya. Kubayangkan, ibunya juga sedang menangis sambil memeluk bayinya itu. Banyak pasang mata memandang mereka, kecuali suaminya yang sedang berdoa dengan khidmatnya.” “Semoga saja, suami dan ayahnya itu, sedang berdoa supaya mereka tenang dan reda tangis mereka.” “Aku pun berharap demikian..” Malam berganti malam semakin. Bayi itu bertumbuh besar belajar bagaimana mengendalikan tangis dan bagaimana belajar dari ayahnya. Dua pembicara itu telah tiada seiring waktu yang semakin purna bersamaan dengan bertumbuh dewasanya bayi itu. Orang tuanya semakin renta di penghujung usia. Mereka belajar menyimpan tangis tanpa air mata. Sampai ajalnya tiba. Demikian pula anaknya, sama.

 

2. Yesus Dipersembahkan di Kenisah

Tahun A/II. Pesta Yesus dipersembahkan ke Bait Allah. Warna Putih. Bacaan Ekaristi: Maleakhi 3:1-4; Mazmur 24:7.8.9.10; Ibrani 2:14-18; Injil Lukas 2:22-24.

Saudara-Saudari yang terkasih,

Pada hari ini, Gereja mengajak kita merayakan pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah. Yosef dan Maria membawa Bayi Yesus ke Bait Allah. Mereka taat kepada Allah dengan mengikuti tradisi hukum Taurat, yaitu setiap anak sulung harus dipersembahakan kepada Tuhan Allah di Bait Allah Yesusalem. Mereka juga mempersembahkan sepasang burung tekukur dan dua pasang anak burung merpati. Ketaatan Yosef dan Maria merupakan tanda iman kepada Allah, sekaligus pengudusan mereka sebagai orang beriman di hadapan Allah.

Saudara-Saudari yang terkasih,

Yosef, Maria, dan Bayi Yesus berjumpa dengan Simeon. Simeon adalah orang saleh dan orang benar yang menanti-nantikan kedatangan Allah. perjumpaan itu menjadi penghiburan bagi hatinya. Ia menatang Bayi Yesus. Ia merasa damai. Ia diurapi oleh Roh Kudus: Simeon akan meninggal dunia, setelah berjumpa dengan Allah yang hadir nyata di dalam diri Yesus.

Saudara-Saudari yang terkasih,

Allah bercahaya dalam setiap orang yang hidup benar, saleh, taat, dan setia. Yosef, Maria, dan Simeon penuh dengan Roh Kudus. Mereka sebagai orang benar, saleh, dan taat kepada Allah. Mereka berbahagia akan kunjungan Allah melalui Yesus dalam hidup mereka.

Saudara-Saudari yang terkasih,

Gereja menjadi persekutuan murid-murid Kristus yang dewasa dalam iman. kita bersyukur bahwa berkunjung dan berdoa di Gereja, maka kita sedang berjumpa dengan Tuhan Allah. Yesus mengajarkan cara hidup-Nya yang terarah pada kurban melalui Sabda dan Ekaristi. Persekutuan umat beriman merupakan tanda nyata kehadiran Yesus Kristus yang mengunjungi kita semua. Simeon menjadi tanda kerinduan bagi kita kepada Allah. Keluarga kita termasuk anak-anak, remaja, dan kaum muda. Baiklah kita membawa anak-anak kepada Allah. Melalui baptis dan Ekaristi, ia menjadi anak-anak Allah dan murid-murid Kristus.

 

3. Pendidikan Katolik Motto Musyawarah Pastoral Mupas (2019) Keuskupan Surabaya:

Dengan Semangat Ardas, mendewasakan Paroki yang berakar pada Lingkungan di tengah Masyarakat.

Pendidikan Katolik bersumber pada iman akan Kristus. kita belajar dari Kitab Suci dan Ajaran Gereja, bagaimana Yesus hidup, dan melayani secara publikkemasyarakatan, serta hidupNya yang terarah pada kematian-Nya di Salib. Penebusan Salib mengarahkan kita pada jalan setapak perjalanan penderitaan Yesus, kematian, dan kebangkitan-Nya.

Bagaimana jika dikaitkan dengan arah dasar? Gereja Keuskupan mengedepankan hidup Paroki dalam partisipasi dan melibatkan umat untuk kaderisasi dan pembinaan terus menerus bagi para pendamping insan pendidikan. Keluarga-keluarga dalam Lingkungan mengajarkan dan mendidik diri setiap anggotanya selaras dengan iman dan karakter hidup secara Katolik.

Beriman berarti taat kepada Allah Bapa, mengikuti ajaran Tuhan Yesus, dalam kasih karunia Roh Kudus. Itu semua diwujudnyatakan dalam pengajaran secara lisan, maupun sikap dan tindakan setiap anggota keluarga dalam hidup kebersamaan dalaam keluarga, serta sharing pengalaman hidup dalam keluarga-keluarga di Lingkungan masing-masing di Paroki. Misalnya: desain berkumpul, desain doa keluarga, desain sharing iman, desain melayani dan berkurban dalam pembagian tugas kerja dalam keluarga rumah tangga. Maka, tampaklah Gereja dalam rumah Tangga setiap keluarga.

Berkarakter berarti insan pendidikan secara dewasa memberikan diri bagi pertolongan dan bantuan untuk hidup orang lain, bersosialisasi, berinteraksi, mau melibatkan diri dalam keprihatinan hidup sesama. Misalnya, kemampuan mendengarkan dan menyimpan rahasia orang lain. Kemampuan bersaksi menjadi teladan bagi orang lain dalam sikap dan tindakan dengan cara mengajarkan anakanak untuk hidup hemat, memberi waktu luang untuk kebersamaan, rekreasi bersama dalam keluarga, menemani anak-anak belajar, meneguhkan anak-anak yang akan menempuh ujian sekolah, serta mengajak anak kunjungan keluarga. Pengalaman hidup ini disharingkan dalam Lingkungan bagi setiap keluarga.