1. Zona Merah Kota

Kota menjadi sunyi sepanjang hari. Suara-suara buatan menjadi senyap. Alam

binatang dan alam tanamanan terdengar sayup-sayup melakukan percakapan yang

berdesir melalui angin.

Setiap pagi. Kita tahu aktivitas riuh ramai di rumah dan di setiap jalan. Anak-anak

terkejut di tempat tidurnya karena dibangunkan secara mendadak. Anak-anak

berebut ingin segera ke kamar mandi dengan saudaranya dan ibunya. Suara

bersaing saling teriak dari luar maupun dari dalam kamar mandi. Bunyi air yang

digebyur dengan tergesa-gesa, sampai terkadang lupa meyeka tubuh dengan sabun

mandi. Meskipun sudah bersih, namun ketika keluar kamar mandi masih terlontar

caci tanpa disengaja, karena suasa terhimpit waktu.

Keluar rumah susana jalan sudah ramai aktivitas. Anak-anak saling menyapa

ketika mereka saling berjumpa. Canda dan tawa meledak seketika. Apapun bisa

bicarakan. Apapun bisa menjadi. Apapun bisa ditertawakan. Wajah-wajah yang

menghadirkan surga di jalanan menuju ke sekolah.

Mereka tak tahu dan bisa jadi tak begitu peduli dengan orang-orang dewasa yag

berlalu saling kebut motor untuk segera sampai di tempat mereka bekerja.

Mereka sangat santai menyeberang di jalanan yang semakin padat. Mereka tak

menghiraukan deru kendaraan. Mereka tak peduli asap yang semakin tak sehat.

Mereka tetap terus berjalan sampai ke tujuan. Kegembiraan anak-anak tak bisa

direbut. Di dalam kelas mereka baru duduk tenang karena diperintahkan.

Zona merah kota berlaku. Sekarang suasana itu sudah tidak ada.

 

2. Minggu Palma: Umat Bersukacita & Mengenang Penderitaan Salib

 

Tahun A/II. Minggu Palma. Warna Merah. Matius 21:1-11. Yesaya 50:4-7; Mazmur 22:8-9.17-18.19-20.23-24; Filipi 2:6-11; Injil Matius 26:14-27:66 atau 27:11-55.

 

Saudara-Saudari yang terkasih,

kita bersorak, Yeusalem, lihatlah, rajamu... Allah sangat mencintai umat manusia. Yesus menyatakan cinta kasih Allah itu dengan hidup dan ajaran-Nya. Ia sudi menjadi Anak Manusia dan berkenan hadir di dunia dan hidup bersama manusia. Minggu Palma berarti awal pekan suci. Gereja mengenangkan kisah sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus. Gereja mengenangkan cinta kasih Allah yang begitu besar kepada umat manusia. Gereja bersukacita, bersorak-sorai, memuliakan, dan menyembah Yesus Sang Raja yang hadir secara sederhana. Yesus memasuki kota Yerusalem dengan keledai. Penduduk Yerusalem menyambut Yesus sebagai Raja bagi mereka. Mereka melemparkan jubah dan pakaiannya sepanjang jalan dimana Yesus akan melewatinya. Mereka juga membawa daun palma di tangan dan melambailambaikan sebagai tanda sukacita dan harapan mereka telah tiba. Penduduk Yerusalem membenci dan menolak Yesus, di sisi lain. Mengapa? Karena Yesus tidak hadir sebagai raja yang akan memimpin mereka di dunia. apalagi ketika mereka tahu bahwa Yesus dituduh menghujat Allah, dijatuhi hukuman mati, dan memikul salib-Nya ke bukit Golgota (bukit Tengkorak).

 

Saudara-Saudari yang terkasih,

 Yesus lebih dahulu memberikan hidup-Nya ... Yesus lebih dahulu mencintai kita semua. Ia lebih dulu menjadi Hamba yang taat. Ia lebih dahulu setia mewujudkan cinta kasih dan keaatan-Nya. Sehingga, Ia berkenan menjadi Raja yang mulia di kayu salib. Menyembah Yesus dan merayakan bersama Gereja, kita semakin diteguhkan dalam iman yang dewasa, cinta, taat, dan setia kepada-Nya. Iman kita semakin diperbaharui dalam Liturgi Minggu Palma. Sehingga berbuah dalam gerakan iman. Berbuah dalam gerakan iman yang dewasa secara aktual dan sesuai konteks kita sekarang. Artinya? Kita hidup karena Allah di dalam diri kita. Kita hidup untuk orang orang lain dan bukan untuk diri kita sendiri. Masyarakat kita hidup dalam zona merah (COVID-19): tinggal di rumah, bening pikiran, murni hati, jaga jarak pergaulan.

 

3. Minggu Palma, Umat Tetap Berdoa Melalui Live Streaming

Yesus memasuki kota Yerusalem, dan bangsa Israel menyambut-Nya sebagai Raja dan Juru Selamat. Yesus menderita siksaan, menderita dengan memikul salib, dan disalibkan, setelah menjalani penderitaan memikul salib, Yesus wafat dan Yesus bangkit. Kita sedang merayakan cinta kasih Allah yang begitu besar kepada umat. Minggu Palma berarti kita menyambut Yesus dengan sorak-sorai memasuki kota Yerusalem. Minggu Palma, sekaligus, kita merayakan dalam duka dan keprihatan bawah Yesus memanggul salib mulai dari Yerusalem hingga wafat-Nya di di bukit Golgota sebagai penyelamatan jiwa-jiwa seluruh umat manusia. Dalam upacara suci, Imam mendoakan dan memberkati daun palma yang kita bawa dari rumah. Kita juga mengenangkan Yesus sebagai Sang Raja dan Sang Juru Selamat. Kita melambai-lambaikan daun Palma di tangan, bernyanyi dengan meriah, menuju ke dalam gereja sebagai kota Yerusalem. Setelah upacara suci, kita membawa pulang dan diselipkan di salib yang ada di ruang tamu. Daun Palma hijau, segar, dan sudah diberkati, mengungkapkan iman akan Yesus. Daun Palma yang lama, kering, dan pudar warnanya melambangkan pudarnya iman dan kesetian kita kepada Yesus Sang Raja dan Juru Selamat kita. Daun palem yang masih segar adalah lambang kesetiaan kita kepada yesus yang diperbaharui. Pada tanggal 05 April 2020, para imam merayakan Ekaristi Maha Kudus tanpa kehadiran umat beriman. Karena situasi zona merah virus COVID-19. Keluargakeluarga berkumpul dan berdoa di rumah di rumah masing-masing; menghindari kerumunan dan semakin cepat menularnya wabah pandemi virus itu . Umat mengikuti Misa Minggu Palma melalui Live Streaming Komsos Keuskupan Surabaya. Ruang Ibadat hendaknya dihias dengan sepantasnya: meja ibadat, salib yang diapit 2 buah lilin bernyala. Salib dan patung ditudungi dengan kain ungu (atau warna lain). Warna Liturgi: merah. Umat merayakan Ekaristi dengan duduk. Keluarga mempersiapkan beberapa helai daun palma atau daun apapun asalkan tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar dan sudah dibersihkan/dicuci untuk digunakan dalam peribadatan. Melalui live streaming, daun palma dipegang, seakanakan sudah diberkati, mendengarkan sabda, meresapi sabda, menerima komuni (rindu), dan berkat perutusan untuk mewartakan sabda penuh sukacita.