1. Sehari Sebelum Imlek

Sehari sebelum Imlek, hujan deras sepanjang jalan beraspal. Dua insan bergandengan tangan menuju sekolah menengah. Perayaan Imlek akan dirayakan di sekolah sembari pesta seni dan setelah itu makan-makan. “Asyik kita bisa makan daging!” “Memangnya kenapa?” “Di rumah, aku tidak pernah makan daging, hanya nasi sama garam. Itu pun kalo ada nasinya. Kadangkala hanya lihat garam sambil membayangkan ada nasi di meja kecil.” “Kalau kamu mau, ini aku ada nasi sama daging kering yang sudah matang dibawakan mama dari rumah?!” “Jangaan...itu kan untuk acara nanti kita di kelas!?” “Kalo lapar dan sangat kepingin makan, boleh kog!” Mereka berdua tidak jadi makan. Merek amelanjutkan perjalanan melalui jalan yang banyak genangan. Hujan rintik-rintik semakin deras. Baju mereka basah kuyup tanpa perlindungan payung, kepala hanya ditutupi tas sekolah yang dibungkus dengan tas plastik warna merah. Mereka sampai di halaman sekolah. Ternyata di halaman sekolah yang seluas lapangan bolla volly itu telah ramai meskipun hujan. Tak menghalangi atraksi-atraksi kesenian yang menyemarakkan tahun baru milik bersama. Diujung siang itu acara selesai seraya hujan, anak remaja sedang makan daging.

 

2. Yesus Sumber Terang Hati Kita

Tahun A/II. Hari Minggu Biasa III. Warna Hijau. Bacaan Ekaristi: Yesaya 8:23b-9:3; Mazmur 27:1.4.13-14; I Korintus 1:10-13.17; Injil Matius 4:12-23.

Saudara-Saudari yang terkasih,

Nabi Yesaya berseru bahwa tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang Sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain; bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat Terang yang besar, dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut telah terbit Terang.

Saudara-Saudari yang terkasih,

Yesus adalah Terang Sejati bagi kehidupan kita. Yesus menyerukan pertobatan, sebab Kerajaan sudah dekat. Yesus melibatkan manusia dalam karya pertobatan dan keselamatan bagi jiwa-jiwa. Kerajaan surga itu dimana Allah meraja di dunia, di hati kita, dan dalam setia pergaulan kita selalu mengedepankan Allah sebagai terang gerakan iman demi persaudaraan bagi semua orang. Yesus menyatakan itu dalam tugas pelayanan-Nya. Yesus mengajak murid-muridNya menjadi penjala manusia.

Saudara-Saudari yang terkasih,

Apakah kita masih mencari ikan? Sesuap nasi? Mencari rejeki? Jodoh? Apakah kita masih sibuk dalam pekerjaaan terus menerus tanpa memikirkan orang lain? Atau apakah kita terpanggil mengikuti Tuhan Yesus dalam karya keselamatan bagi sesama? Apakah kita menyadari diri sebagai murid-murid Kristus? Apakah kita juga mau dilibatkan oleh Yesus dalam karya pertobatan menghadirkan Kerajaan Surga? Kita dipanggil oleh Yesus untuk melayani, mengurbankan diri, dan perutusan menyerukan pertobatan dalam sakramen. Sakramen yang telah kita terima menjadi tanda rahmat iman tugas pelayanan. Sakramen itu menyatukan kita dengan Allah. Sakramen itu mendamaikan kita dengan sesama.

Saudara-Saudari yang terkasih,

Kerajaan Surga dinyatakan dengan kehadiran Yesus. Kerajaan Surga dinyatakan dengan kemauan kita bersatu dengan Yesus. Kabar gembira itu bahwa Yesus berada di tengah-tengah kita. Yesus tinggal di dalam hati kita. Berkat sakramen, kita hidup di dalam kasih dan persekutuan dengan Yesus. Kita hidup dalam terang. Yesus Kristus menerangi hidup kita. Kita diutus menjadi terang bagi sesama.

 

3. Sanggar Maria Santo Stefanus Surabaya

Air mengalir di bawah kaki patung Bunda Maria berbunyi gemericik jatuh ke bak mandi yang dijadikan kolam buatan. Tanaman tetumbuhan tanpa buah di pasang minimalis tersusun rapi dengan cahaya lampu malam redup remang-remang.

Pada awalnya Romo Kepala menyampaikan betapa penting dan mendesaknya, kita mengusahakan semangat katolisitas sebagai kesaksian hidup di tengah masyarakat. Kita berjalan bersama sebagai murid-murid Kristus yang dewasa iman dalam pelayanan, kurban diri, dan perutusan (tiga hal ini menyatu).

Peserta yang hadir dari Kevikepan Surabaya Barat: Pak Husni, Pak Daud, Pak Valent, Bu Sri Maryanti, Pak Bambang, Pak Yusuf, Pak Petrus, Pak Poewanto, Pak Tan Pieter, Bu Theresia Habel, Pak Ignatius Jemingin, Pak Albertus, Pak Agus Stefanus, Pak Rubbyjanto, Pak Adhi Suasono. Acara formal-santai berlangsung Pkl. 19.00 WIB – Pkl. 22.00 WIB.

Pokok Pembahasan membicarakan persiapan bahwa Paroki St. Stefanus akan menjadi tuan rumah pertemuan Lintas Iman, Agama, dan Kepercayaan tahun 2020. Usulan yang masuk sarasehan, bedah buku, bhakti sosial masyarakat, dan pentas seni di gabung dengan ulang tahun paroki.

Pokok Pembahasan kedua membicarakan aktivitas seksi HAK dengan rencana belajar bersama tentang dokumen konstitusi Nostra Aetate, dan dokumen Abu Dhabi 2019, dan melibatkan kaum muda. Ketiga persoalan kaderisasi dan jaringan yang diperluas dengan komunitas persaudaraan iman.

Acara non formal-santai berlangsung Pkl. 22.00 WIB – Pkl. 01.00 WIB. Meskipun sudah larut malam, teman-teman tak hendak pergi dari tempat duduknya yang semula. Mereka saling berbagi dari pengalaman pendampingan dan advokasi atas satu peristiwa yang menyesakan dalam kehidupan beriman dan beragama. Salah satu topiknya: membicarakan soal peribadatan yang dilarang di salah satu kota kabupaten, sharing warisan gereja yang sudah didirikan dan jangan dibongkar dari wasiat Romo pendahulu, karena akan menimbulkan persoalan, serta bagaimana umat haru kompak dan menjadi perwakilan juru bicara yang benar (bukan atas nama kepentingan pribadi atau pengakuan).

Ringan namun syarat misi. Sebelum pulang, mereka berpikir ktitis bagaimana mendesain acara untuk pemahaman akan Hubungan Antar Agama di Kevikepan Surabaya Barat.