Karina kependekan dari Karitas Indonesia. Kata tersebut mengadaptasi kata Caritas. Kata Caritas berasal dari bahasa Latin, Caritas yang berarti cinta kasih. Ensiklik pertama Paus Bapa Suci Benediktus XVI, berjudul Deus Caritas Est, menegaskan: “Direktorium Pelayanan Pastoral Uskup secara konkret mengembangkan pelayanan karitatif sebagai tugas hakiki Gereja dalam kesatuan bersama Uskup di Keuskupannya dan mengedepankan, bahwa pelayanan kasih adalah tindakan Gereja, sebagai Gereja dan bahwa seperti pelayanan Sabda dan sakramen-sakramen, hal itu juga merupakan bagian hakiki dari tugasnya yang pokok”.

Sejak menjadi keputusan Sidang KWI 2005, disiapkan sebuah struktur dan fungsi baru dalam bentuk lembaga pelayanan sosial dan kemanusiaan. Selanjutnya, terbentuklah Yayasan Karina yang disahkan dengan akta notaris pada tanggal 17 Mei 2006. Kehadiran Karina mendapat dukungan positif dari keluarga besar Caritas Internationalis yang berpusat di Roma yang memiliki anggota sebanyak 162 tersebar di seluruh dunia. Kegiatan utama Karina ialah mengembangkan pelayanan sosial kemanusiaan tanpa membedakan agama, suku, ras, golongan dan sebagainya. Semua manusia, lebih-lebih yang menderita merupakan keprihatinan Karina. Melalui Karina ini umat dapat menyampaikan belarasa mereka kepada siapa saja yang sedang mengalami penderitaan dalam bencana.

Uskup Surabaya. Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono melalui Surat Keputusan No. 312/G.113/IX/2007, 28 September 2007 membentuk Karina Keuskupan Surabaya. Surat tersebut menunjuk Karina Keuskupan Surabaya ex officio dilaksanakan oleh Komisi PSE per 1 Oktober 2007. Baru beberapa bulan lahir, Karina Keuskupan Surabaya terlibat dalam persiapan penanganan situasi tanggap darurat di sekitar lereng Gunung Kelud. Bulan Desember 2007, ketika banjir melanda wilayah Ponorogo, Madiun, Ngawi, Cepu, Bojonegoro dan Lamongan, Karina Keuskupan Surabaya mengkoordinasi bantuan berupa dana dan barang. Bersama jejaring Caritas menyalurkan bantuan 675 paket sembako. Bulan Maret 2009, ketika banjir melanda wilayah Mojoasem, Lamongan, Karina Keuskupan Surabaya mengkoordinasi ribuan paket bantuan. Dan didukung jejaring Caritas menyalurkan 1.050 paket sembako dan perlengkapan kesehatan. Bersamaan dengan melubernya lahar dingin di wilayah Pare, Kediri, Karina membantu pengadaan air bersih untuk warga yang terdampak bencana.

Seiring berjalannya waktu, Karina Keuskupan Surabaya meningkatkan kapasitas anggotanya dengan Pelatihan kapasitas Project Cycle Management (PCM) dan Financial Management (FM). Bulan November 2008 di Madiun, Karina Surabaya membentuk jaringan relawan tanggap darurat (Jatadar). Sekitar 70 orang muda dari paroki-paroki se-Keuskupan Surabaya hadir untuk menyediakan diri menjadi relawan. Saat itu juga terbentuklah Sub Divisi Tanggap Darurat (Emergency Response / ER) yang kemudian berkembang dengan sebutan Tanggap Darurat dan Kesiapsiagaan (Emergency Response and Preparedness / ERP) yang dipimpin oleh Joseph Hanny Hendra Wardhana yang memiliki jaringan di 7 kevikepan. Pada bulan Desember 2008 di SDK St. Yosep, Wonokromo, Surabaya, Karina Keuskupan Surabaya membentuk Sub Divisi Pengurangan Resiko Bencana (DRR, disaster risk reduction). RD. Sabas Kusnugroho menjadi pimpinan divisi bersama tim telah memberi penguatan kapasitas masyarakat di lokasi rawan bencana, di Porong, Sumbersuko, Pare, Blitar, Bayeman, Madiun dan Mojoasem, Lamongan.

Karina Keuskupan Surabaya bertujuan untuk mendukung Kerasulan Sosio Pastoral bagi umat dan masyarakat dan berfungsi untuk menganimasi, mengkoordinasi dan memfasilitasi karya sosial kemanusiaan. Bidang Kegiatan sebagaimana ditetapkan dalam Organizational Development (OD) ialah: Penanggulangan Bencana dengan mengarusutamakan Pengurangan Risiko Bencana, Pengembangan Kapasitas Sumber Daya relawan di tingkat Keuskupan dan Paroki (rawan bencana) serta Pengembangan Jejaring dan Dana.

Dalam penyelenggaran Bidang Kegiatan, Karina Keuskupan Surabaya didukung oleh para relawan yang secara sadar, tanpa paksaan dan terpanggil untuk melakukan pelayanan sosial kemanusiaan dalam lingkup kerja Jaringan Caritas Indonesia (Karina), tanpa mengharapkan imbalan, demi keutuhan martabat hidup manusia. Dalam penyelengaraan Program, Karina Keuskupan Surabaya melakukan monitoring dan evaluasi. Dalam penyelenggaraan Administrasi Keuangan, Karina Keuskupan Surabaya berusaha menjunjung tinggi transparansi dan akuntabilitas. Tertib administrasi tersebut memudahkan dalam mempertanggungjawabkan kegiatan kepada Keuskupan perangkat pastoral di Kevikepan dan Paroki, donor dan penerima manfaat.

Karina Keuskupan Surabaya, bersama para pengurus dan jaringan relawan intern maupun ekstern, lintas agama, memanggil anda untuk menghadirkan wajah sosial dalam pelayanan kemanusiaan.

Program:

1. Peningkatan Kapasitas:
- Pengembangan Organisasi
- Manajemen Siklus Proyek
- Manajemen Keuangan
- Good Governance
- Akuntabilitas Lembaga
- Monitoring dan Evaluasi


2. Kesiapsiagaan Dan Tanggap Darurat Bencana:
- Sphere
- Kode Etik Pelayan Kemanusiaan
- Kajian Kebutuhan Tanggap Darurat
- Desain Proyek Tanggap Darurat
- Prosedur Standard Operasi Tanggap Darurat
- Logistik Tanggap Darurat


3. Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Masyarakat
- Pembentukan Organisasi Masyarakat
- Kajian Resiko Bencana Partisipastif
- Pengembangan Strategi PRB
- Perencanaan Aksi PRB
- Pedoman dan Dukungan Manajemen OM
- Pelembagaan PRB OM


4. Pengelolaan Keuangan
- Tata Kelola Keuangan
- Akuntabilitas Kerja Kemanusiaan
- Strategi Penggalangan Dana
- Membangun Jejaring