Alamat         Jl. Majapahit No. 38B, Surabaya 60265
Telepon PABX  031 - 5616042; 5679865; 5624141; 5665061  Ext.23
Email  [email protected]

 

Pokok ajaran agama katolik mendapat inspirasinya antara lain dari naskah Alkitab, misalnya yang terungkap di dalam kalimat seperti: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:37-38) dan “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44). Perintah-perintah yang berhubungan dengan diri manusia, Tuhan dan sesama itu diberikan oleh Yesus sebagai pedoman untuk membangun Kerajaan Allah. Di dalam Kerajaan Allah itu Allah lah yang meraja, kehendak Allah lah yang menentukan.

Di dalam Gereja Katolik, ajaran itu dirumuskan berdasarkan Kitab Suci, Tradisi dan Magisterium.

KONSILI

Bersama umat manusia, Gereja berusaha mencari jawaban atas persoalan kemanusiaan yang dihadapi. Ajaran itu setiap kali dirumuskan kembali antara lain di dalam pertemuan sedunia bersama para uskup yang disebut Konsili.

Konsili Vatikan II

Konsili mutakhir abad ini adalah Konsili Vatikan II yang diusulkan oleh Paus Johannes XXIII pada tanggal 25 Januari 1959 dan dibuka pada tanggal 11 Oktober 1962. Paus tersebut meninggal selama Konsili berlangsung. Penggantinya, Paulus VI melanjutkannya sampai ketika diakhiri pada tanggal 8 Desember 1965.

Hubungan dengan Penganut Agama Lain

Di antara 16 keputusan Konsili itu terdapat ajaran resmi Gereja Katolik dalam hubungannya dengan agama-agama lain. Ajaran ini menjadi pemicu bagi Gereja- gereja setempat untuk membangun cara berhubungan yang baru dengan saudara-saudara yang tidak berada di dalam Gereja Katolik dan yang tidak beragama kristiani.

NOSTRA AETATE (Pada Jaman Kita)

Gereja di sini terutama mempertimbangkan manakah hal-hal yang pada umumnya terdapat pada bangsa manusia, dan yang mendorong semua untuk bersama-sama menghadapi situasi sekarang.

Sebab semua bangsa merupakan satu masyarakat, mempunyai satu asal, sebab

Allah menghendaki segenap umat manusia mendiami seluruh muka bumi. Semua juga mempunyai satu tujuan terakhir, yakni Allah, yang penyelenggaraan-Nya, bukti-bukti kebaikan-Nya dan rencana penyelamatan- Nya meliputi semua orang, sampai para terpilih dipersatukan dalam Kota suci, yang akan diterangi oleh kemuliaan Allah; di sana bangsa-bangsa akan berjalan dalam cahaya-Nya. (NA 1)

TANTANGAN SEMUA AGAMA

Dari pelbagai agama manusia mengharapkan jawaban tentang teka-teki keadaan manusiawi yang tersembunyi, yang seperti di masa silam, begitu pula sekarang menyentuh hati manusia secara mendalam: apakah manusia itu? Manakah makna dan tujuan hidup kita? Manakah yang baik dan apakah dosa itu? Darimanakah asal penderitaan dan manakah tujuannya? Manakah jalan untuk memperoleh kebahagiaan yang sejati? Apakah arti maut, pengadilan, dan pembalasan sesudah mati? Akhirnya apakah Misteri terakhir dan tak terperikan itu, yang merangkum keberadaan kita, dan meniadi asal serta tujuan kita? (NA. 1)

TERANG PARA BANGSA

Akhirnya mereka yang belum menerima Injil dengan berbagai alasan diarahkan kepada umat Allah. Terutama bangsa yang telah dianugerahi perjanjian dan janji- janji, serta merupakan asal kelahiran Kristus menurut daging (lih. Rom 9:4-5), bangsa terpilih yang amat disayangi karena para leluhur: sebab Allah tidak menyesali kurnia-kurnia serta panggilan-Nya (lih. Rom 11:28-29). Namun rencana keselamatan juga merangkum mereka, yang mengakui Sang Pencipta; di antara mereka terdapat terutama kaum Muslimin, yang menyatakan, bahwa mereka berpegang pada iman Abraham, dan bersama kita bersujud menyembah Allah yang tunggal dan maharahim, yang akan menghakimi manusia pada hari kiamat. (LG 16)

PARA PENCARI ALLAH

Pun juga dari umat lain, yang mencari Allah yang tak mereka kenal dalam bayangan dan gambaran, tidak jauhlah Allah, karena la memberi semua kehidupan dan nafas dan segalanya (lih. Kis 17:25-28), dan sebagai Penyelamat menghendaki keselamatan semua orang (lih. 1Tim 2:4). Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal. (Terang Para Bangsa, 16)

ISLAM

Gereja juga menghargai umat Islam, yang menyembah (1) Allah satu-satunya, yang hidup dan berdaulat, penuh belas kasihan dan mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, yang telah (2) bersabda kepada umat manusia. Kaum muslimin berusaha (3) menyerahkan diri dengan segenap hati kepada ketetapan- ketetapan Allah juga yang bersifat rahasia, seperti dahulu (4) Abraham - iman Islam dengan sukarela mengacu kepadanya - telah menyerahkan diri kepada Allah. Memang mereka tidak mengakui (5) Yesus sebagai Allah, melainkan menghormati-Nya sebagai Nabi. Mereka juga menghormati (6) Maria Bunda-Nya yang tetap perawan, dan pada saat-saat tertentu dengan khidmat berseru kepadanya. Selain itu mereka mendambakan (7) hari Pengadilan, bila Allah mengganjar semua orang yang telah (8) bangkit. Maka mereka juga menjunjung tinggi (9) kehidupan susila, dan berbakti kepada Allah terutama dalam (10) doa, dengan memberi sedekah dan berpuasa. (NA 3)

ANJURAN

Memang benar, di sepanjang zaman cukup sering telah timbul pertikaian dan permusuhan antara umat Kristiani dan kaum Muslimin. Konsili suci mendorong mereka semua, supaya melupakan yang sudah-sudah, dan supaya bersama- sama membela serta mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang, nilai- nilai moral maupun perdamaian dan kebebasan.

HINDU

Sudah sejak dahulu kala hingga sekarang ini di antara pelbagai bangsa terdapat suatu kesadaran tentang daya-kekuatan yang gaib, yang hadir pada perjalanan sejarah dan peristiwa-peristiwa hidup manusia; bahkan kadang-kadang ada pengakuan terhadap Kuasa ilahi yang tertinggi atau pun Bapa. Kesadaran dan pengakuan tadi meresapi kehidupan bangsa-bangsa itu dengan semangat religius yang mendalam. Adapun agama-agama, yang terikat pada perkembangan kebudayaan, berusaha menanggapi masalah-masalah tadi dengan faham-faham yang lebih rumit dan bahasa yang lebih terkembangkan. Demikianlah dalam Hinduisme manusia menyelidiki misteri ilahi dan mengungkapkannya dengan kesuburan mitos-mitos yang melimpah serta dengan usaha-usaha filsafah yang mendalam. Hinduisme mencari pembebasan dari kesesakan keadaan kita entah melalui bentuk-bentuk hidup berulah-tapa atau meialui permenungan yang mendalam, atau dengan mengungsi kepada Aliah penuh kasih dan kepercayaan.

BUDDHA

Buddhisme dalam pelbagai alirannya mengakui, bahwa dunia yang serba berubah ini sama sekali tidak mencukupi, dan mengajarkan kepada manusia jalan untuk dengan jiwa penuh bakti dan kepercayaan memperoleh keadaan kebebasan yang sempurna, atau - entah dengan usaha sendiri entah berkat bantuan dari atas - mencapai penerangan yang tertinggi.

Demikian pula agama-agama lain, yang terdapat di seluruh dunia, dengan pelbagai cara berusaha menanggapi kegelisahan hati manusia, dengan menunjukkan berbagai jalan, yakni ajaran-ajaran serta kaidah-kaidah hidup maupun upacara-upacara suci.

SIKAP GEREJA

Gereja Katolik tidak menolak apa pun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar Kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenaran, dan hidup” (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya.

YAHUDI

Sebab Gereja Kristus mengakui bahwa - menurut rencana ilahi penyelamatan yang bersifat rahasia - awal mula iman serta pemilihannya sudah terdapat pada para Bapa Bangsa, Musa dan para Nabi. Gereja mengakui, bahwa semua orang beriman kristiani, putera-putera Abraham dalam iman, terangkum dalam panggilan Bapa Bangsa itu, dan bahwa keselamatan Gereja dipralambangkan secara misterius dalam keluarnya bangsa yang terpilih dari tanah perbudakan. Oleh karena itu Gereja tidak dapat melupakan, bahwa ia telah menerima Wahyu Perjanjian Lama melalui bangsa itu, dan bahwa karena belas-kasihan-Nya yang tak terhingga Allah telah berkenan mengadakan Perjanjian Lama dengannya. Gereja tetap ingat, bahwa ia menerima santapannya dari akar zaitun yang baik, dan bahwa cabang-cabang zaitun yang liar, yakni kaum kafir, telah dicangkokkan pada pohon zaitun itu.

PERAN KOMISI HAK

Melayani masyarakat lewat para Uskup

  1. Mendampingi usaha dialog
  2. Mengumpulkan data
  3. Mengenal komunitas lain
  4. Mepersiapkan keterbukaan
  5. Mengambil langkah pertama
  6. Memperdalam pengetahuan tentang agama sendiri
  7. Mengamati masalah kemanusiaan di lingkungan
  8. Membangun hubungan baik dengan umat lain

 

SUSUNAN PENGURUS KOMISI 2017-2020

Ketua Komisi RD. Yohanes Agus Sulistyo
Koordinator Tim Komisi Johanes Jusi Qwensi
Sekretaris F.X. Rubbijanto Suganda
Staf Komisi Silvester Woru
Bag. Pemberdayaan Theresia Damarsasi Wahyu Hartanti
  J.B. Steven Jundika
  Lukas Kambali Kusricahyono
Bag. Dialog Sosial Budaya AntoniusY. Suwanto
  Joseph Arifin
  Matius Jono
Bag. Jejaring F.X . Rubbijanto Suganda
  Yuliana Ratna Darmawati
  Yohanes Pemandi Adhi Suasono
Bag. Advokasi dan Bantuan Hukum Maria Veronika Setiawati Sabarudin
  Hendrikus Santosa Wijaya